Sabtu, 26 Februari 2011

-Kisahku Enam Bulan Krtiga (bagi yang baca note sebelumnya Insya Allah nyambung)-

Sunyiku memeras kencang perjalanan kaki-kaki hidup yang telah aku pikul selama enam bulan ini. Entah dari mana aku harus memulainya. Kanankah? kirikah? atau tengah? semuanya serasa bercampur penuh beragam rasa di hatiku. Rasa. Ya, mungkin inilah kata yang dapat melahirkan sebuah kata lagi yaitu, hikmah. Kata hikmah akan muncul mekar ketika ada sebuah kisah didalamnya. Tapi, tunggu aku tak berbicara itu dulu. Semuanya dari sebuah persinggahan sementaraku di kota gersang sana. Kota yang penuh kisah perjuangan yang terus berakar dalam otakku hingga ku temukan kesuksesan penuh berkah dari-Nya. Alhamdulillah, aku sudah menyatu pada tapak yang ku pijak diatasnya diatas persinggahan. Aku dan saudara seimanku merasakan begitu penuh keadilan. Aku kini bersama dia yang cukup dekat denganku. Satu atap kecil yang disekitarnya ada perlengkapan hidup kami. Aku senang dapat semakin menguatkan silaturahmi padanya. Tak hanya itu saudaraku yang lainnya sangat mengerti akan kehendak kami. Perjalanan pendidikan telah dimlai. Aku tidak mengambil subyek tingkat atas. Mungkin itulah yang dapat aku katakan. Karena diantara mereka yang melakukan hal itu, aku tidak. Aku menaruh syukur pada sang pemilik aku. Perjuanganku bulan-bulan lau membuahkan hasil yang memuaskan. Ini akan aku jadikan pelajaran, untuk dapat mempertahankan yang baik dan meningkatkan yang kurang baik. Aku melihat ingin tahu pada subyek-subyek yang aku ambil. Penuh rasa penasaran pada mereka. Aku akan memperoleh cahaya ilmu yang baru dari pecinta ilmu yang baru dan sedikit yang lama. Siapapun mereka aku harus menyadari bahwa ilmu datang dan masuk dalam hati, jiwa, dan pikiran yang jernih, suci, penuh hal-hal positif.  Aku segera merasakannya. Nikmat bisa menatap fokus pada hal-hal yang belum kita ketahui. Karena dengan itu aku akan paham dan mengerti. Melihat saudara-saudaraku di persinggahan ilmu, aku sangat senang. Banyak hal yang aku dapat dari mereka. Tentang hidup mereka, tabiat mereka, dan diri mereka. Dengan itu aku mengerti bahwa aku hidup haru bersosialisasi. Dan aku sudah semakin dewasa. Pada tingakatan ketika aku harus bisa rendah diri. Tidak ada yang aku tinggikan. Karena ada yang lebih baik dariku. Waktu segera saja mempersiapkan dirinya. Mengemaskan barang-barangnya, lalu pergi tanpa pamit. Ada yang berbeda saat ini, aku dekat dengan saudara-saudaraku yang lain. Aku ingin banyak tahu tentang saudaraku yang lainnya. Ilmu terus disumbangkan tanpa lelah oleh pecinta ilmu untuk para kader ilmuan untuk hidup kami. Lalu, aku tiba-tiba saja dekat dengan tiga saudarku yang lain. Mereka baik, penuh dengan keceriaan ketika bersama mereka. Aku mulai jenuh pada kegaringan yang ada. Mengapa ada hal yang ganjil ketika aku tidak bersama mereka semua? pertalian individu tidak ada, aku rasa. Tidak seperti keceriaan dan kebersamaan yang kami tunjukkan. Aku bingung. Aku menelusuri tabiat mereka. Dan ternyata, mereka mengasingkan aku pada hal-hal tertentu. Oh.. tidak,,,rasa inilah yang sangat tidak enak dalam dadaku. Biarkan, kataku. Aku tahu mereka kini. Terus waktu berlarian kencang tanpa tahu ada yang tertinggal. Sampai ketika aku mulai gerah pada tabiat mereka. Tentu aku mengambil sikap yang wajar untukku. Mereka bingung, ketika aku memuntahkan separuh yang tidak enak kurasakan pada seorang diantara mereka. Hmmmm, sama saja mereka tak pernah mau menerima kekuranganku. Saatnyalah aku mengambil keputusan yang membuat mereka semakin bingung. Silent, inilah kata yang patut terucap dari sikapku. Tiba-tiba pikiran tentang mereka ikut campur saja pada aktifitas ku mengais ilmu. Tidak, aku tidak boleh mencabangi pikiranku ini. Aku harus fokus. Tapi sedikit sulit, namun aku masih bisa fokus. Dan hari yang merobek hatiku bahkan pikiranku, tiba.

***

Tidak tau diri. Ya aku dapat katakan hal ini pada seorang saudaraku pada sikapnya yang sangat berlebihan. Dan tak kusangka kata-katanya ada yang melebihi koridor silaturahmi. Mungkin ini yang dapat aku katakan darinya. Aku tidak akan bisa mencari saudaraku yang lain untuk aku jadikan kawan. Dia ternyata tidak ikhlas pada silaturahmi yang ada selama ini. Aku tahu, serela-relanya seorang saudara kepada saudara yang lainnya, tidak akan mengatakan hal bahwa adanya keterpaksaan dan ketidakikhlasan. Tidak,,,kembali menghantui pikiranku. Aku harus tetap fokus pada cahaya ilmu yang masuk pada hati, jiwa, dan pikiranku. Begitulah, ada yang merobek fokusku lagi. Saudara seatap kecilku di persinggahan sementara kami, berbuat tak wajar hingga mempermalukanku di depan darahku. Aku cukup terkejut ketika pertama kali aku melihat tingkah lucunya. Hah?! mungkin ini kata yang patut di ungkapkan saat itu. Darah-darahku pun merasa canggung untuk membiarkannya menjamah istanaku. Sikapnya sungguh tak lazim. Tapi, aku senang dan dapat menukikan senyuman ketika saudaraku itu mampu merasakan dirinya benar-benar merasa. Aku cukup senang. Diantara kedua kisah aneh yang melenyapkan sadarku sesaat lalu, membuatku trauma menapakan diriku pada saudaraku yang lain untuk menjadikan mereka lebih dari "kawan", karena inilah jawabannya. Aku sungguh benar-benar tahu akan tabiat mereka sebenarnya. Dan terus belajar dari pengalaman. Tentunya pribadiku tak sempurna Rasulullah SAW. Manusia mulia bagi umat manusia. Aku akui inilah aku, aku bersalah pada mereka, namun ya semuanya mendapat pelajaran masing-masing. Dan kini...semuanya yang berhubungan denganku adalah sama, rata, dan tak akan aku sematkan sosok istimewa melebihi "kawan",karena semuanya adalah kawan. Tidak perlu aku gelar karpet kegelisahan serta kegalauan yang aku rasakan karena keduanya. Aku hanya cukup ikhlas, yakin, dan tetap optimis untuk menjadi lebih baik. Hanya rasa syukur yang dapat aku terbangkan diatas perjuanganku ini. Karena niatku berada, berpijak diatas tanah perjuangan ini hanyalah mencari rido Allah SWT untuk mengais ilmu sebanyak-banyaknya. Agenda sebuah acara. Ya, aku bertanggung jawab terlibat didalamnya. Sungguh, hal itu bersamaan ketika aku harus mengahadapi evaluasi triwulan setelah melewati setengah semester. Dalam payung perkuliahan. Waw..., inilah sebuah resiko yang patut diterima oleh seorang yang profesional. Acara Alhamdulillah berjalan lancar. Hatiku masih gundah, bila evaluasi itu tidak diikutsertakan untuk aku dan saudaraku yang lainnya. Tapi, syukurlah pecinta ilmu pada salah satu subyek mengijinkan kami evaluasi. Kami mengikutinya dengan khidmat dan konsentrasi. Membayar semua pengorbanan. Manusia dapat berencana dan menanam asa. Namun Allah-lah yang hanya dapat menentukan semuanya. Hasil evaluasiku berada pada tingkat rendah. Hah?!,,,,inilah sebuah resiko. Tak akan pernah aku menylahkan acara itu. Karena aku tahu itulah sebuah perjuangan. Aku bersyukur bahwa inilah kekuranganku. Walaupun evaluasi berjalan tiba-tiba. Tapi aku tahu, bila aku dapat membagi waktu dan mempersiapkannya lebih baik, tingkat menengah bahkan atas akan aku jamah. Itulah sebuah kenyataan. Aku harus tetap menjaga rasa keyakinan ini untuk terus melangkah dalam payung rido Allah dan orangtua ketika sedang mengais ilmu yang bermanfaat. Waktu kembali melewatiku cepat. Tig abulan telah meniti kepulangannya. Aku berada pada waktu yang menentukan. Tiga bulan lagi akan ada evaluasi terbesar. Dimana semua hasil perjuangan selama tingkat ketiga ini akan ditentukan disana. Hasil ketika mendengar, menyimak, dan melaksanakan yang diamanatkan untukku. Sampailah aku di pijakan persinggahanku yang lain. Tempat darah-darahku membanting tulang dan memeras keringat mereka untuk keberhasilan dan kelayakan hidupku dan darahku yang lainnya. Aku terperanga melihat keganjilan yang sedang dirasakan malaikatku. Malaikat yang sudah membesarkan aku hingga aku dapat merasakan hidup yang sesungguhnya. Ialah ibu, ada yang merusak pikiranku. Ketidakwajaran aku terima dan aku dengarkan. Aku cukup dapat mengeluarkan bening mataku. Ketika aku kembalikan lagi pikiranku pada bulan-bulan sebelumnya. Ya Allah...inilah ujian-Mu. Hanya dapat bersabar,ikhtiar, dan menaruh tulus dalam dada menghadapinya. Dan itu semua membuat kepalaku pusing setiap waktu. Hingga sedikit tidak fokus pada ilmu-ilmu yang sepatutnya aku dapatkan dengan mudah. Pikiran yang sudah leleh oleh waktu ketika hal-hal yang membuatku gelisah. Aku belum bisa membawa diri pada konsentrasi yang seimbang. Tingkatan ketiga ini penuh dengan hikmah yang terlahir dari rasa-rasa yang terkejut melihatnya.

***

Evaluasi yang benar-benar menentukan hasil perjuanganku selama tingkatan ketiga ini. Ya, tiba-tiba saja ketika detik yang membawa menit yang membawa jam yang membawa hari yang membawa minggu yang membawa bulan menggambarkan betapa aku harus mempersiapkannya lebih fokus dan konsentrasi, tapi tidak membuatku gerah atau gelisah besar. Aku hanya berpikir takut tapi aku tidak begitu hati-hati. Sehingga ketika satu pekan aku lewati. Aku menyimpan asa pada evaluasi itu bahwa tingkatan ini harus benar-benar bisa maksimal. Dan saat tibanya melihat keseluruhan batang-batang perjuanagnku yang aku tanam di tingkatan ketiga ini, cukup memuaskan, walau sangat jauh dari asa. Namun aku mencoba mengikat tulus, yakin, sabar, dan optimis dalam juwa pikiran dan hatiku. Ya, itulah yang harus aku lakukan. Karena hidup penuh perjuangan. "Nak, dalam perjuangan akan ada perjuangan lagi", demikian malaikatku bernama "ibu" menitipkan pesan yang masih aku ingat. Aku percaya Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya itu. Dan pasti akan ada hikmah dan sesuatu yang harus aku rubah untuk menjadi lebih baik. Dengan rasa yakin pada Allah, yakin pada diriku, tetap semangat, ikhlas, dan optimis menjalani hidup kedepan. Kesemuanya. Perencanaan yang positif sudah aku lukiskan di benakku untuk tingakatan selanjutnya yang menantiku. Penuh perjuangan disana. Aku harus benar-benar mengantongi yakin, semangat, ikhlas, dan optimis dalam langkahku mengais ilmu dalam payung rido Allah dan orangtua. Agar kesia-siaan, penyesalan, dan kerugian tidak aku dapatkan di masa yang akan datang. Ampuni hamba ya Allah...atas ketidaksyukuranku pada nikmat-Mu selama ini.,amin....

-kekinian hatiku-

masih belum nerima,
masih belum nerima, aduh....ya Allah
lindungi hamba dari syeitan
yang menggerogoti hati manusia
apalagi disaat seperti ini..
.jangan biarkan ya Allah,,,ia dan tentarannya
mencoba mencabik-cabik imanku pada-Mu.,
kepercayaan diriku pada ku,
aku tahu penyebabnya,
jangan biarkan kelemahan
, kekurangan,
dan kelalaian waktu lalu tumbuh kembali
dalam ranah perjuanganku merebut rahmat dan ridho-Mu ya Allah..amin..

Rabu, 02 Februari 2011

-don't occur-

each time wind in life wheel
having diversity stories
your eyes will say.....
you lie to your life,
you are hypocritical
what for?.....

i'm afraid to my bone
that stinged by tired
now see your life!
don't occur
bout what you suggest
flowing with your past

being the skull
that broken all of you
in your heart
your main
still you can't move
to your standing

it can be bloom
that suck your aware
don't occur
all of drawn
that bless suffer
now, you are

feeling bout your self
your self
just your self not the other
up please, my heart says
in the hug night
in rich solitude....

-kenapa oh kenapa-

Mimpi aneh menjadi perjalanan ku setiap siang dan malam. Banyak kisah disana. Mulai menyeramkan, menyedihkan, mengenaskan, dan meragukan. Kenapa ya? tanya itu selalu ada di benakku menusuk dalam2 kelenjar otakku. Semua orang pernah bermimpi, naum tidak setiap hari mungkin. Dan tidak yang sebegitu lebayyyyyy. Kenapa ya? bertanya lagi pada batang yang bergoyang dalam lantunan angin malam. Tepat dibelakangnya sabit menyapu seluruh pandangan awan. Namun, tidak ada jawaban. Itukan bunga tidur? yang tumbuh di tanah mimpi. Disirami air dari peri2 khayal. Dan tersadarkan ketika bunga telah layu. Kenapa ya? apakah ini sugesti dari pikiran yang berselancar kemana2 hingga mata tertutup lalu mimpi deh, atau hanya bualan belaka? ish......aneh, kenapa oh kenapa? selalu saja seperti itu. Bagaikan berpetualang di dunia lain, dunia selain dunia ini. Apakah ada setitik perbuatan yang jarang kulakukan sebelum tidur? ya , mungkin do'a. Aku terkadang tidak membaca do'a. Mimpi itu selalu hanya diriku seorang, tidak ad aorang lain yang aku kenal masuk di mimpiku. Hanya sosok khayal yang tampak dan mengajakku bicara, lalu berbuat sesuatu tentang cerita mimpiku. Lalu, ketika aku mencoba memejamkan mata sedetik, lalu langsung saj ada cerita disana, hahahha unik, unik sekali, tp ada ketakutan menjamah. Serasa dapat memikirkan mimpi apa yang akan aku mau, hi...........,serem bgt. Anehny aketika aku berpikir tentang sesustu, amaka ketika mata terpejam, dannnnnn mimpi itu sesuai apa yang aku pikirkan.Kenapa oh kenapa......ini terjadi sejak dulu, sejak aku memasuki belasan tahun, maka tidak aneh sesungguhnya, Namun, kenapa ya? tu tu...susah hilangnya....susah bgt......kenapa oh kenapa, biarlah waktu yang akan mengetakannya, biarlah, selama ini tidak mengundang keburukan untukku tidak apa2, namun akau sangat tidak ingin (nauuzubillah) mimpi2 itu pertanda sesuatu yang buruk ,,,,,jika mimpi itu baik untukku maka dekatkanlah ya Allah, dan jika mimpi itu buruk untukku maka jauhkanlah ya Allah....

-sekelebat rasa-

bintang sedang bernyanyi
menyuarakan bayang2 semu
menenggelamkan penat
diatas kenangan

nada-nada indah
bukanlah bunga
yang mengantarkanharum
di pelukan duka,

tapi ia adalah
seikat bangkai
yang busuk
dimakan selaksa waktu

sudahi saja
apa yang merobek tulang-belulangmu
karena mereka telah menjadi nisan
di pekuburannya

Selasa, 18 Januari 2011

-diatas sana-

diatas sana,

tepat mataku menegakkan lurusnya

melihat masa yang merangkak acuh

bersama tarian angin

juga bercak-bercak hujan

yang emnempel,

jadi jatuh menimpa ingatanku

untuk menerawang jauh

dalam dan semakin melayang

-selorong pagi-

dari timur ini
langit begitu teduh dengan tiap titik hujan
sayap-sayap gereja
sedang sibuk berayun dalam pelukan pagi
sebentar aku amati
ada setitik terang sedang tersenyum
ia terus meniupkan
semilir embun yang dingin
pada kulit-kulit hidup
aku jadi penggoda pagi ini,
ia berkata
pikiran sedang ikut mengamati si dia
menyelusup melalui celah otak
yang sedang siap digerakkan
pada pangkuan hari
pikiran duduk termenung
diatas kepala,
menghitung hujan
untuk ia tulis di benaknya
baru saja gemuruh marah
akan kelalaian terang yang masih membelai
bulu-bulu bergoyang
hari ini terlihat basah oleh kanji-janji syurga
pada gerak-gerik hidup

-sosok mereka-

pada pergantian hari
aku sandarkan punggungku
diatas sofa

mataku menatap dua sosok lelah
yang sedang menikmati
mimpi-mimpi malam

wajah mereka
mengetuk kalbu ku
maka kubuka kalbu ku

disana asa, doa, dan
senyum mereka melingkar
diatas kepalaku

hingga mutiara suci
telah tiba saja di dinding pipi
selamat jalan malam



sampaikan salam ku
untuk pagi menjelan

-hiruk sunyi-

pagi ini
mencambuk sadar ku
hamparan sunyi tergelar megah
dihadapan surya
ia yang belum sudi wajahnya
ditampar angin lembab
kepada ribuan rintiknya
aku berdawai
mengajak basah rumput
untuk memikirkan
tentang suara kehidupan

Minggu, 09 Januari 2011

-ramadhan nan suci-

Peluh berguguran di samudera Ramadhan

Menghitung detik yang tak kunjung berhenti

Menguasai terik mengobar semangat

Menjatuhkan kenikmatan berpuasa

Melayang di tengah kerusuhan dahaga

Mulai mata terbuka hingga tertutup kembali

Jalani ibadah di samudera keridhoan-Nya

Merangkul magfiroh yang hendak bercakap

Memeluk berkah yang terus menghujam...

Di tengah kekhusuan Ramadhan....

-sekarat-

Pada tatapan merah pria berkulit hitam memanah menuju bangunan sederhana. Berponadasikan kulit bambu, pendosa-pendosa telah siap dengan pelurunya.Hari masih senja,namun kerumunan manusia putih yang hendak ibadah sudah bertebaran, keluar sosok wanita berambut hitam terurai, lurus dengan mata lentik dari daun pintu warung itu. berhelai benang merah menutupi ramping tubuhnya.hanya pancaran lentera kuning menghiasi warung itu. warung yang tak pantas disebut warung. pria sedang menari-nari dalam dunianya segera melangkah pada tapak berayun, dan mendekati wanita sudut warung. Tapi satu pejalan putih menghalangi panah yang hampir menusuk sang wanita. Pejalan putih segera menghampiri tepat di depan sang pria,"mang adul?,ini mang adul kan?"kata pun termuntahkan.
"pulang mang,ini saodah. bi jamilah sekarat,bukan lagi waktunya berdrama di depanku"
pria itu masih menari-nari di tempat. cairan haram telah menyatu di tubuhnya, sehingga ia menari dalam lantunan musik syeitan.
"mang adul harus pulang,mang adul harus pulang"katanya setelah memegang tangan layu yang pernah menamparnya.
"mang adul mau kemana?bukan itu tempat pembaringan mang nanti",saodah menengok ke arah wanita yang melebarkan senyum dengan gigi berselaput sinar itu. kembali ia menerima diam dari pembisu itu.
karena tak tahan lagi, saodah menarik lengan keriput itu dan melangkah seribu memikul kemaluan yang didapatnya selama perjalanan. puluhan pasang mata mendarat di dirinya.
sampailah pada rumah panggung berhias putih lentera.
"Assalamualaikum, neng,neng...ini saodah sama mang adul"
pintu terbuka,tatapan tajam seorang gadis kecil menguraikan air hangat."bapak?"ia tak ingin menjatuhkan tubuhnya pada pelukan sang pria yang sedang menari-nari diatas panggung syeitan itu.
"kenapa bapak baru pulang?bapak mabuk lagi?pak, ibu sekarat pak"
setlah mendengar kata putri mungilnya,akhirnya sambil menari ia menjuruskan makian pada darahnya sendiri
"diam kau anak lembu,biarkan saja ibumu mati, aku tak peduli",
eneng segera menuju pembaringan ibunya, ia menepis segala makian yang jatuh menimpa hatinya setiap hari itu.
"tapi,mang, istrimu akan mati kau harus ada di sisinya sebelum....",kata saodah menambahkan bumbu penyegar. Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah teriakan membelah mgrib itu, keluar dari mulut mungil eneng.
"ibu............."
Saodah segera meninggalkan pria kotor itu dan memasuki ruang yang penuh duka menerawang.
"Innalillahiwainnailaihirajiun..",saodah menghampiri eneng dan jongkok sejajar dengan eneng. maka di rangkulnya gadis cilik yang tak berdosa itu. Air mata pun telah tumpah lima menit yang lalu.

-realita tak terelakkan-

Sulit ku rasa

Ketika petopeng mulai berdrama

Jutaan kata-kata sampah termuntahkan

Sudihkah bila satu diantara mereka terperanjat

Dalam tong yang penuh belatung dengki

Serta racun beracun yang menyatu di tubuh tak bertulang itu

Yang lemah akan semakin lemah

Di nina bobo kan oleh yang dirinya

Merasa emas namun tak pernah mengemaskan yang lain

Mungkin belatung yang hidup di muntahannya itu

Suatu saat akan di jilatnya kembali

Bila ada yang mengaku emas di hadapannya

Realita palsu telah terelakkan

Pada sembilu hari-hari kemarin

Mereka yang mematung masih seperti bayi merangkak

Yang tak mengerti tinta hitam telah meracuni kawan-kawannya

Persetan....

Ketika ia memuja dengan mutiara busuk itu

cueh...
cuehh

-penat-

peluh mengairi tubuhku
ketika kulihat warna duniaku telah kelabu
aku penat
dengan semua yang melayang
marahi aku bila itu menjadi emas untukku
dan katakan pula padaku bila
aku ini makluk sia-isa
aku penat
dengan diam ku ini
ku ingin berselancar
di lautan itu
bila satu diantara tubuhku telah lesu
ditelan lunglai yang berkepanjangan
hingga raja hari terlelap dan
kupun belum berubah

-my self just now-

I feel rare just now
It has made me for thinking
I thread and don't speak anything
Only hope and hope, who can i do
Stiil there tomorrow day
I must change
I must better than now
I must be more adult with my condition

On Thursday 2010

-kisahku enam bulan pertama-

Asaku berlompat-lompatan ketika berkumandang kabar dari sana. Aku kini akan menjadi mereka yang sibuk membaca, mengkritisi hal yang tabu, bahkan pertalian yang akan erat setelah semuanya berkumpul. Dan dihadapanku, enam bulan yang lalu sebuah penentu hidup. Dimana aku akan berjuang dan jauh dari keramaian di rumah. Riang ku dengar suara hati ini disaat benar-benar terlihat dua pasang mata di hadapanku memecahkan air hangat dan tumpah mengenai tanganku. Ku pun tak terelakkan, haru itu masih terngiang dalam ingatan ku. Berangkat menuju daerah yang gersang garang dipenuhi roda-roda berjalan serta debu yang menempel di setiap manusia yang berada disana.
Baling-baling pikiran memutar kencang ketika aku harus salam terakhir untuk sementara pada darahku. Aku sedih, hingga air hangat kembali terurai, terisak-isak mengiringi perjalananku dengan ibunda. Sampailah aku disana, kawanku telah menunggu. Ini rumah semntara ku disini. Kami akan membuat suka duka berbaris di kisah kami. Hanya keridhoan-Nya serta ikhlas ku untuk melangkah lebih maju. Petang itu begitu mendera. Teduh ku lengkap bergandengan dengan diam ketika ibunda pergi meninggalkanku menuju Jakarta. Kami telah sendiri dan mandiri. Perkumpulan telah dimulai, aku dan kawan serumahku sibuk memburu kelengkapan peradaptasian kami di tempat baru setelah meninggalkan masa hura-hura dan masih canda-canda. Seminggu kami merasakannya. Semangat mulai terbakar. Telah ku ukir di benak ini suatu rencana. Ku miliki banyak perkumpulan setelah satu demi satu penyaringan potensi dimulai. Dan saatnya ku buka lembaran baru terukir di kertas hidupku. Aku telah sah menjadi warga tempat ini. Ku tekuni dengan buku dalam genggaman ku. Ku muntahkan segala yang kupikir di setiap periode. Disitu pun aku merasa inilah yang disebut pendewasaan. Aku senang dengan apa yang ku ukir itu sedikit demi sedikit tergambar. Orang yang memberi ilmu itu beragam. Karakter mereka memahami ku untuk terus membenah diri. Terus ku lewati rintangan di hampir enam bulan ini. Ku rasa ku telah memiliki tali cinta pada kawan-kawan di sebuah ruang. Tawa, canda, selingan celetuk melengkapi hiruk pikuk kehidupan kami di rumah baru dan sebuah tempat ilmu. Lalu, pengujian dimulai, setelah melewati tes untuk mengetahui apa aku. Maka, baru-baru ini aku pun telah melewati sepekan penentuan untuk enam bulan berikutnya. Dan sekarang aku mendapatkan buah yang baru matang untuk lebih matang. Buah itu kembali merasuki ku untuk membenah diri. Jadi inilah hasil enam bulan itu. Ku pun berusaha tunduk dalam syukur pada-Nya. Dengan asa melayang disana dan terus kan keu pertahankan buah manisnya dan ku tingkatkan buah busuknya agar tambah manis dirasa. Nantikan kisahku enam bulan berikutnya, caw

-tiga titik-

tiga titik untuk para durjana
yang tersebar di dunia ini
tiga titik untuk para pendosa
yang mendosa di tengah malaikat yang sedang jatuh cinta
tiga titik untuk bayi merangkak
menyanyi di panggung kesepian
tiga titik untuk semua yang hidup
ketika melihat binatang berwujud manusia
berkeliaran di sudut-sudut khatulistiwa
dia yang tertawa pun beraksi tiga titik
untuk pembisu yang meraja
selembar kertas melayang ketika manusia tiga titik
hanya memilki ruh yang menjadi taruhan
dalam penentuan akhir hidup
dan sang khalik sudah menguasai tiga titik manusia
hingga sepanjang masa
dan tiga titik harus menjadi badan dan emas kita semua kini dan nanti

-sendiri-

malam akan segera menjamah
dedaunan mulai memeluk tubuh dengan lengannya
angin akan berarak pelan namun menjarumi setiap makhluk berkulit
sedangkan ku terpuruk menatap terang yang akan punah
entah ia akan kembali pada esok yang bertanya
aku duduk di sendiriku
ketika mereka telah hilang dalam sekejap
bingung segera merasuk di celah otakku
akankah aku menjadi gelandangan malam ini
yang kumiliki hanya asa yang bersembunyi di palung hatiku
sehingga tiada yang dapat ku naungi kecuali kesendirianku
yang mematung menjadi patung untuk beberapa jam ini
sudah lupakan yang lalu
yang terbang bersama roda kendaraan pikiranku
mereka pun telah sibuk dengan dunianya
sehingga aku diabaikan,
'o tidak'
mungkin kata itu yang menemani ku saat ini
dan akan pulang ke rumahnya bila aku telah menemui keramaian

-aku haus cerita-

aku haus cerita
dari peri yang menari di ruang benak ini
merdu suaranya
menjelma menjadi buah dari pikiran yang tercabik-cabik
oleh nada lalu yang kembali merasuki dunia ini
namun tiang penyangga ku telah rapuh di makan usia
kini hanya penegak kaki busuk yang menajam di tanah asaku
ku rindu setengah mati
hingga menggilalah diriku ketika cerita itu kembali lagi
rapuhlah aku seandainya ia menggerogoti hati ini
dahaga yang memuncak di menara tubuhku sudah semakin layu
dan ia masih memutar di baling-baling otakku
hanya pasrah dan mencoba bangkit dari tempat duduk ku
walaupun ia telah lama menjadi puing sia
yang menyedot putih cinta hingga kosong tak berbekas

-semua berawal dari sana-

dari sana aku muncul
tepat ketika ku melepaskan alam ruh
yang menggerakkan aku hingga persendian ini telah melonggar
selanjutnya mulai ku tatap sekelilingku
penuh teka-teki bagi seorang yang suci ini
bodoh memang
namun tak sebodoh orang-orang diluar sana
mereka tak pernah menyadari betapa sulit dirasa oleh makhluk tegar bernama 'ibu'
telah meminangnya menjadi seorang anak cacat
yang masih kaku juga bisu
tangis dan jerit pun menjadi emas pelingkar di atas kepalanya
lebar senyumnya menyejukkanku
kini telah berlalau
semua yang berawal dari sana pun telah meniti kepulangannya
namun bagi sosok diri ini
tiada yang berlalu
semua itu akan menjadi peri2 mungil yang datang ketika hati riang suram
dan hingga palung hidup telah tertutup
menyambut kematian yang memelukku
di tempat nan jauh itu

-my day-

hari ini akan menjadi masa lalu
yang tenggelam dalam dasar kisah yang menjadi sampah
kini aku telah bertambah
satu untuk satu
yang menetaskan
asa demi asa
di benakku
Ya Allah q berharap dalam hari esok
tersimpan sepucuk bunga segar
embun yang menusuk pori
dan rasa syukur yang melayang di atasnya
hanya keistikomahan seorang manusia
lah
yang menjadikan ia masih berdiri di atas menara tinggi
penuh duri yang melilit
segala itu untuk hari ini
hariku

-my emphasis-

in tihis self there is a load
which make me can't move free
always bother me
in every opportunity
so, i'm like a bird which can't fly in the sky
and like wind which can't move when hide
in closed place
i feel this whatever
can make me aware with all incident
all of my emphasis

-satu hari-

pernahkah kau merasakan hari2 mu sempurna?
melakukan hal yang baik burukkah?
atau hanya kesia-siaan belaka?
ketahuilah hari yang kita pijak ini
akan menjadi masa kenangan yang takkan kembali
ia akan menjadi abu sampah yang sirna
bila kau gunakan itu sia-sia
tapi itu pun akan memberimu kesenangan sesaat
karna kau melewaatinya dengan hasrat ikhlas, syukur dan tawakal

***

dan kawan pernahkah dalam satu hari kau menyimpan memori
yang kau tahu itu sudah lama sekali
namun seketika ada sesuatu membuat mu rindu akan hal itu dan ingin kembali
bahkan hingga mengeluarkan air hangat dari kelopak matamu
kau tahu rasanya?
sangat membuntukan aktifitasmu saat itu
atau sebaliknya ada momen yang benar2 membuatmu tak ingin kembali saat2 itu?
itu benar2 mencabik2 hatimu,
kau menderita dalam kesendirian dan tak ada tempaat untuk mengadu kecuali
dalam haribaan-Nya
daaan bila kau memikirkan itu kau akan merasa takut dan bersyukur
itu tlah lenyap ditelan waktu

***

adakah satu hari kau buwat itu spesial dalam harimu?
makan baso bareng teman?
nnton bareng pacar?
belanja sesuatu?
dapat kejutaan baik-buruk?
capek?
pusing?
bad mood?
awful day?
semua itu pasti terjadi pd semua orang tapi tidak dlm keadaan yang sama
hal2 demikian akan menjamah setiap hari2 kita

***
dan itu saru hari

-senja di kampus 24 juni 2010-

Awan hitam memayungi langit

Sunyi melengkapi kesendirianku di tengah rinai hujan

Ku goyangkan pena dengan musik melambai

Belum lagi setiap ranting-ranting pohon diluar sana

Siap menarikan dedaunan

Hingga ujungnya seakan lemah

Pemandangan senja ini kelabu

Ku hentikan sejenak kertas berisi tinta hitam

Lalu kurapatkan tubuhku di hadapan jendela

Terlihat siluet-siluet alam terukir dalam terang lampu kampus

Bulan dan bintang mungkin akan mulai menyapa

Namun panah hujan yang terus menancap bumi

Tidak sanggup mempersilahkan malam memuja pada sang senja

-malam itu-

Telah berapa bait lagu kudengar
namun lantunannya kosong
tak ada yang berani jatuh ke lelapku, tak berhasil
mataku lah yang meraja saat ini

Telah q coba rapatkan selimut putih q
namun hati dan pikiran seakan bersatu
memalingkan memori yang telah terkunci disana
wajah layu berbisik, entah apa yang dibisikkannya

yang terdengar hanya sunyi

Malam, katakan pada sunyi
mengapa ia masih memelukku?
bukankah telah kau undang nyamuk untuk mengusirnya?
atau kau masih menjadi pilar bagi makhluk bernafas ini?

Katakan malam
katakan!
sampai kapan mata yang memerah ini
berlarut dalam pandangan kosong?

-aku yang........-

aku yang berdebu

dipenuhi kerikil cokelat

menghalangi pekat di pelupuk mata



aku yang bertanya-tanya

pada tanda tanya yang masih menari

bersama rasa yang abadi di benakku



aku yang diam dengan mata kosong

memperhatikan titik dihadapanku

ia tak memberikan warna atau gambar



aku yang mematung

di tiang ku yang hampir rapuh

dan lemah



aku yang bersandar

pada dinding-Mu yang bertabur rahmat dan nikmat

juga anugerah yang masih kurasakan



aku yang berdiri

pada tapak yang tak berpijak

menyeru masa terus mendorongku



aku yang menatap

rasa yang hampir punah

ditelan prasangka





aku yang dihadapan aku



aku yang menatap aku



aku yang menertawakan aku



aku yang menjatuhkan aku



aku yang melindungi rasa itu



aku yang terluka karena rasa itu


aku yang mengangkat tangan pada-Nya


aku yang memohon satu




aku yang berjalan
dalam lingkaran teka-teki
menjinjing satu asa



-about you-

missing you...
missing this hurt in my heart

forgetting you...
forgetting this hurt in my heart

remembering you...
remembering all bitter experience in my heart

visiting you
visiting hurt feeling that i'll get

imagining you...
imagining your bad action

thinking you...
thinking an accident that hurt my heart from the last time

if you aware...

maybe you'll regret to me
cos, you'll know that i'm not really good for being your colleges life

and

about you...
is...about all which destroy my heart, my heart, and my heart








the date of August'02 2010
for all who have awarness






-aku tahu-

aku tahu siapa aku
darimana aku.
 dan aku akan kemana nanti....

ya semua yang dihadapanku adalah kenyataanku, dan aku harus melaluinya
tabah, sabar, optimis, ikhlas....

tentang keyakinan yang telah menjalar di dagingku, aku harus yakin,
aku berada pada syukur-Nya,

tidak ada yang membuat ku ragu kecuali syeitan
Allah bersamaku setiap saat, Ia akan membimbingku, menolongku, dan mengujiku untuk mengetahui sejauh mana kekuatanku, Ia ada untukku, untuk manusia, yang haus akan ilmu, dan menyeimbangkan itu antara iman, ilmu, dan amal harus seimbang...

aku adalah dewasa, aku  tahu...
aku telah dewasa,
beberapa bulan lagi aku akan dua puluh tahun,


ya Allah....aku tahu itu, maka, berilah hamba kesadaran tentang hidup yang begitu cepat merangkak
tanpa menhiraukan siapa yang menjadi pelaku hidup

ayah ibu, mereka telah semakin tua, adik telah semakin besar,kakak telah smeakin terlihat darah perjuangannya

semuanya hanya untuk mereka ya Allah....jangan Kau biarkan diriku terjatuh pada lingkar syeitan, jangan ya Allah....
agar semuanya tidak sia-sia dan rugi,..amin.....

aku harus menjaga semamngat, tanggungjawab yang besar, dan keyakinan yang kuat untuk perjalanan hidup dan pendidikanku....amin..

-setetes air laut-

dawai-dawai itu melantun memekakan telinga

teringat sepucuk kembang kematian yang telah busuk

harumnya mengambang mengembalikkan udara sengat

untuk jiwa yang telah retak oleh senapan asmara


hanya bisa menangis...

hanya bisa menangis...


ketika cerita-cerita dari negeri silam masuk kembali

dalam otakku dan ia mulai bermain

menarik lenganku yang telah lemah untuk menerimanya


PERSETAN....

hanya bisa menangis...

hanya bisa menangis?


kenapa kau bertanya pada aku yang kusut oleh benang sembilu

sementara ia sedang menutupi rapat

kotak rahasia dalam kalbunya



kini....



hanya bisa menangis...

hanya bisa menangis...

hanya bisa menangis...




memikirkan diri yang terperenjat dalam kaki-kaki iblis

naudzubillah...


cukup sekali dan tak terulang lagi...

-hanya bisa menangis-

dawai-dawai itu melantun memekakan telinga

teringat sepucuk kembang kematian yang telah busuk

harumnya mengambang mengembalikkan udara sengat

untuk jiwa yang telah retak oleh senapan asmara


hanya bisa menangis...

hanya bisa menangis...


ketika cerita-cerita dari negeri silam masuk kembali

dalam otakku dan ia mulai bermain

menarik lenganku yang telah lemah untuk menerimanya


PERSETAN....

hanya bisa menangis...

hanya bisa menangis?


kenapa kau bertanya pada aku yang kusut oleh benang sembilu

sementara ia sedang menutupi rapat

kotak rahasia dalam kalbunya



kini....



hanya bisa menangis...

hanya bisa menangis...

hanya bisa menangis...




memikirkan diri yang terperenjat dalam kaki-kaki iblis

naudzubillah...


cukup sekali dan tak terulang lagi...

-kisahku enam bulan kedua (bagi yang baca note senbelumnya Insya Allah nyambung)-

Assalamualaikum, apa kabar siang bertemu senja...., kini aku telah sampai dr pintu gerbang. Dan meninggalkan sepucuk kenangan yang habis ditelan waktu. Dalam perjalananku enam bulan itu, aku merasakan segalanya. Aku memperoleh kebaikan dr perjuangan yang sempat ikut tertelan waktu bila aku tak dapat memanfaatkannya. Duduk mendirikan pikiran ditengah konsentrasi penuh. Ya, itulah setiap hari kulakukan dihadapan seorang pecinta ilmu. Ia memberikan emas-emas lalu di opernya kepada otakku. Hingga sedikit demi sedikit aku mulai dewasa. Tidak seperti kala ku memijakan kaki diatas tanah gersang dua belas bulan lau. Ya tak terasa, telah setahun aku disini. Aku mulai tahu siapa aku? darimana aku? dan kapan aku akan kembali. Aku mulai merasakan beratnya menjadi seorang penuntut ilmu. Namun, dibbalik itu. ada secerca sinar terang menemaniku untuk terus melaju menghadapi badai ujian yang penuh tantangan. Esok aku akan pindah dari tempat awalku mencicipi kota ini. Bangunannya mengingatkanku akan perjuangan darahku mengantarkanku hingga tempat itu. Semua penuh kenangan disana. Aku pun harus menuangkan air sejuk pada kawanku untuk saling mengikatkan tali kebersamaan kami untuk segera menemui tempat baru kami. Ya, tak jauh dari sini. Sekarang tatapanku tiba-tiba terhenyak. Aku pulang senja itu, termenung melihat perubahan yang tak lazim. Kawanku telah rela memberikan lelahnya untuk tempat baru kami. Semua telah rapi. Tak hanya itu aku banyak berpikir hingga malam menjamu. Aku lupa akan sesuatu. Rindu yang masih disana. Memeras urat kepalaku hingga gambar darah-darahku mendorong air hangat keluar dari telaga mata. Aku harus mulai terbiasa dengan apa yang ada dihadapanku. Harus. Sempat ku mengeluh pada syukur yang tak kunjung memberikan nikmat padaku. Aku masih termenung saat-saat rindu itu. Dan tiga bulan telah merangkak. Tak terasa. Wajahku semakin terlihat dewasa. Bulu halus mulai tumbuh di bawah hidungku. Ya Allah...aku pun telah sembilan belas tahun. Tak terasa. Kata itu lagi yang mampir di benakku. Aku harus mulai gundah dengan masa dihadapanku. Aku akan menginjak satu tingkat. Dan merasakan indahnya perjuangan disana. Dengan peluh yang memeras serta lelah yang bersandar di sendi tulang. Aku semakin dewasa. Apalagi melihat wajah-wajah baru mulai lahir dari perjuangan mereka. Kesibukan mereka benar-benar memperlihatkan kembali saat itu betapa sulit dan besar perjuangan darahku menitipkanku disini. Aku tersenyum. Namun, air hangat kembali mengalir dengan syukur yang membelendung di diriku. Ya, aku ini adalah aku yang pada saat ini hidup. Hari ini.Dan menatap terus kedepan tanpa, mempedulikan siapa, apa, dan bagaimana ujian menghantamku. Dia yang penuh Maha masih mengiringiku,  juga lantunan do'a bercampur asa dari darahku. Hampir tiga puluh hari kami merebahkan badan, pikiran, hati di tempat asalku. Setelah mengurus sesuatu yang lebih dari penting, aku kembali menatap tempat gersang penuh perjuangan ini. Bulan suci, serta hari fitri terasa memompa inginku untuk terus menjadi lebih baik. Harus. Dan menjadi insan yang mengeri tentang kehidupan. Kehidupan yang fana terganti yang kekal. Nantikan kisahku selanjutnya...

-duniaku sedang menangis-

Petapakanku menginjak tanah dosa. Aku sedang menampar pikiranku. Ia nakal, selalu saja membuat urat nadi berantakan. Malam ini dunia di bawah sana sedang apa ya? aku penasaran. Aku pun mulai melakukan perjalanan jauh menuju selaksa yang sedang kusut. Perlengkapanku telah lengkap. wajah orang-orang di dekatku telah ku kantongi. Ingatan juga telah aku masukan rapat-rapat di gendonganku. Apa yang kurang ya? ohy senja disana belum ku lipat. Sebentar aku melangkah, ia tersenyum padaku. Aku agak malu mengajaknya. Tapi, harus aku lakukan. Nah..kini semuanya telah siap. Kendaraanku telah aku hidupkan menuju kesana. Mataku telah mengendarainya dengan cepat. Tanpa mengundang kesadarannku, aku hampir sampai. Negeri disana, masih membuatku penasaran. Ketika setengah perjalananku menginjak sepertiga malam, aku terperangkap pada jeratan yang menutupi pandanganku. Aku kesulitan, yang aku lihat dan rasakan hanya rintihan tangisan yang ada. Ya Allah....aku ternyata telah sampai, kataku setelah membelalakan mata dengan tajam. Aku melihat mereka sedang menangis. Air matanya memenuhi sekitarnya. Mereka juga berteriak kencang yang  memekakkan telinga. Mereka meminta dengan paksa wajah-wajah orang yang ku kantongi. Aku khawatir, mereka mau mengacak-acaknya. Apa mungkin memang itu yang mereka harapkan. Aku melihat wajah-wajah itu disobek lalu digigit dengan rintihan tangisan yang semakin keras. Saat pandanganku sedang meruncing kesana, tiba-tiba ada hentakan keras dari belakangku. Mereka mengambil ingatan ku, lalu aku melihat didepan mataku, mereka seenaknnya memakan ingatanku hingga habis tak berbekas. Aku mulai ketakutan. Aku segera berlari, sejauh mungkin. Memikirkan perjalananku yang mungkin kurang sesuatu. Aku semakin ketakutan, mereka bergerombolan mengejarku, kaki mereka tak terlihat, namun begitu cepat. Aku benar-benar semakin memacu kakiku. Tapi, nafasku telah menghentikan pelarianku perlahan. Kakiku mulai mundur dengan wajah yang terlupakan oleh senja yang kulipat. Semakin aku mundur dan menjauh, semakin mendekatlah mereka. Tiba-tiba, aku terjatuh sangat dalam. Semakin dalam hingga tatapanku kosong dan tak terlihat. Jantungku terasa tertinggal diatas sana. Aku masuk dan jatuh semakin dalam, lalu ada suara yang keras memecahkan gendang telingaku, namun aku sempat mendengar kata-kata yang dilontarkannya. Mereka yang mengejarku berkata, "akulah duniamu yang menangis, yaitu kalbu yang kau acuhkan selama ini", aku langsung tejaga oleh kata-kata di sisi kananku, ia berkata,"kau lupa membawa do'a dalam perjalananmu, bukankah itu satu harapan yang kau harus simpan diatas kepalamu?"

-tulisan tanpa alasan-

Malam ini tidak memelukku secara rapih. Ia terus menghembuskan angin pucat yang tak berarah. Dari sebuah tulisan ia menertawaiku dalam-dalam, seakan menunjukan bahwa siapa dia dan inilah dia. Tapaknya pun sudah dia daratkan di pelabuhannya, sungguh senang bukan? kini aku bercacau di atas mesin ketik. menuangkan semuanya. Tidak terasa sunyi mulai membengkak, memar ditampar sembilu berkarat. Jari-jariku sedang asyik bermain dengan huruf-hurufnya, lalu mataku tiba-tiba bicara, "kau salah, untuk apa kau berbuat seperti ini? sedangkan dia yang telah kau acuhkan kini bahagia bersama senyum meyeringainya?", "persetan kau mata, kau tak tau dalam hatinya yang rapat itu...". Di tengah-tengah cacau, ada  pikiran sedang menjajakan jajanannya, yaitu masa lalu yang dicampur bumbu kepahitan namun nikmat untuk yang sedang bersenang dengan kata-kata tanpa alasan. Ia menawarkanku yang sedang terpaku, "kau mau?", aku diam dan mengangkat senyum sisnisku padanya, "Ish,,,binatang jalang...untuk apa kau kesini?", " aku..? hmmmm menghancurkanmu melalui bumbu-bumbu ini...", "pergi kau !!", ia telah berlalu bersama jejaknya yang terhapus. Suara durjana yang terikat oleh kakinya yang rapuh berdawai,"hai para pesakit...,kau telah salah, salah, salah, hahhhhha, ", aku terus berusaha mematung, namun ia mulai mendekat, dan suaranya semakin memekakan telinga,"hai....pesakit yang disana, sedang apa kau? menaburkan benih sia? ehhhhe....",akhirnya aku mulai menjulurkan lidah, "hai durjana hati, sudahlah !!! pergi dan urus saja pemakamanmu yang telah mati itu jangan kau pedulikanku...", setelah banyak juluran lidah kuhantam kemukanya, ia mulai berlalu,,,,lalu, sunyi segera hidup dan bermain riang di luar  sana, aku masih disini dengan tulisanku. Lalu, mengapa tiba-tiba gerakku diam? jemariku membatu? apa yang terjadi? ternyata aku sedang dalam gulungan perih yang membutakan penglihatanku. Terlihat dari kejauhan namun terasa olehku kedekatannya, mata? ha?pikiran?ha?durjana hati?ha? , mereka tertawa terbahak-bahak melihat aku yang terperosok dalam liang penuh bangkai sesal.

-tarian hati-

Jangan katakan tentang putih-putih yang melekat pada tumpukan hati didalam bejana, Ia telah dirajam oleh masa lalu dan kini telah mendapatkan pelabuhan terakhirnya. Lentera sedang menari dalam lantunan angin asing. Ia mencoba mengajarkan pikiranku untuk menari. Maka di ajarkanlah pikiranku tentang sebuah tarian yaitu tarian hati. "hati selalu naik turun, dan mencoba naik setinggi-tingginya, namun ketika ia sudah jatuh, sakitnya sangat miris, hingga merobek kulit tipismu bahkan mengalahkan sendi2 yang telah lemah dan begitu mudah di penggal, jadi angin yang sedang sangat ribut tak bisa membiarkannya diam, dan terus mencoba merobek-robek hingga dagingmu. Sebaliiknya, jika hati sedang turun serendah-rendahnya, ia pun bahkan begitu mudah menjadi umpan untuk mengailkannya pada iblis, sebelum aku mengajarkannya padamu tentang tariannya, aku akan bercerita tentang si hina. Hina seorang makhluk berbadan hati dan bermuka perih. Pekerjaannya hanya menerima cercaan dari yang lebih hina. Lalu suatu ketika ia berjalan menuju kerumunan orang, lalu ia bertanya pada salah seorang diantara mereka, "ada apa kau berkumpul seperti ini?disini?","kami sedang menanti kematian kami, untuk dijadikan olok-olok alam. Lalu mengapa kau tidak bergabung dengan ku dan yang lainnya?",Hina menjawab,"aku? aku sudah lebih buruk dari kalian, bukan? jadi tidak pantas aku ada disini","apa?!tidak pantas? kau tidak tahu yang sedang kau bawa di badanmu itu?hahhhha, hina..hina.., kau belum lebih nista bila kau tidakmerasakan apa yang aku rasakan, sekarang kau ikut aku. Akan aku bawa kau kesana", ia menunjuk kearah wajah-wajah yang lebih hina dari hina, namun tidak seperti biasanya, mereka membawa masa lalu , yang lalu, sangat lalu, bahkan sebelum ia ada. menampar hina menusuk badannya dengan sangat keras llau dilemparkan ke alam yang siap- mengolok-olok hina. Setelah mereka melakukan itu, mereka benar-benar menikmati mulut yang sedang menganga lebar tentang tawa yang terbahak-bahak. Hina mati, lebih dulu darimereka. Nah, itulah cerita tentang seorang Hina. Baiklah aku pergi dulu","tapi, kau belum mengajarkanku tarian, tarian hati?",lentera menjawab"apa yang telah kau lakukan dua jam lalu, adalah tarian hati yang telah membunuh hina dengan hatinya yang menumpuk bersama goresan putih-putih itu. Kaulah mereka itu,kau yang merajam hati di tumpukan bejana yang disebut Hina, alam. Kau pelakunya kau.....kau.........hahhahha"

-dalam ujung hari-

senja ini sedang tersenyum padaku
ada yang kutunggu

sebuah pandangan
yang jarang kutemui dalam putaran hari-hari

ia begitu menciptakan makhluk
bernama "tanya" di benakku

kadang kuperhatikan
ia seperti sendiri dalam langkah misterinya

ia benar-benar merampas perhatianku
hingga langit yang hendak mengibarkan mega


sudah akan berangkat pada peraduan malam


dan kini ia sedang meninggalkan aku
diantara wajah yang penuh abu-abu

aku larut disini, di tempat ini
ia masih membiarkan pikiranku tenggelam di perairan asa