Sabtu, 26 Februari 2011

-Kisahku Enam Bulan Krtiga (bagi yang baca note sebelumnya Insya Allah nyambung)-

Sunyiku memeras kencang perjalanan kaki-kaki hidup yang telah aku pikul selama enam bulan ini. Entah dari mana aku harus memulainya. Kanankah? kirikah? atau tengah? semuanya serasa bercampur penuh beragam rasa di hatiku. Rasa. Ya, mungkin inilah kata yang dapat melahirkan sebuah kata lagi yaitu, hikmah. Kata hikmah akan muncul mekar ketika ada sebuah kisah didalamnya. Tapi, tunggu aku tak berbicara itu dulu. Semuanya dari sebuah persinggahan sementaraku di kota gersang sana. Kota yang penuh kisah perjuangan yang terus berakar dalam otakku hingga ku temukan kesuksesan penuh berkah dari-Nya. Alhamdulillah, aku sudah menyatu pada tapak yang ku pijak diatasnya diatas persinggahan. Aku dan saudara seimanku merasakan begitu penuh keadilan. Aku kini bersama dia yang cukup dekat denganku. Satu atap kecil yang disekitarnya ada perlengkapan hidup kami. Aku senang dapat semakin menguatkan silaturahmi padanya. Tak hanya itu saudaraku yang lainnya sangat mengerti akan kehendak kami. Perjalanan pendidikan telah dimlai. Aku tidak mengambil subyek tingkat atas. Mungkin itulah yang dapat aku katakan. Karena diantara mereka yang melakukan hal itu, aku tidak. Aku menaruh syukur pada sang pemilik aku. Perjuanganku bulan-bulan lau membuahkan hasil yang memuaskan. Ini akan aku jadikan pelajaran, untuk dapat mempertahankan yang baik dan meningkatkan yang kurang baik. Aku melihat ingin tahu pada subyek-subyek yang aku ambil. Penuh rasa penasaran pada mereka. Aku akan memperoleh cahaya ilmu yang baru dari pecinta ilmu yang baru dan sedikit yang lama. Siapapun mereka aku harus menyadari bahwa ilmu datang dan masuk dalam hati, jiwa, dan pikiran yang jernih, suci, penuh hal-hal positif.  Aku segera merasakannya. Nikmat bisa menatap fokus pada hal-hal yang belum kita ketahui. Karena dengan itu aku akan paham dan mengerti. Melihat saudara-saudaraku di persinggahan ilmu, aku sangat senang. Banyak hal yang aku dapat dari mereka. Tentang hidup mereka, tabiat mereka, dan diri mereka. Dengan itu aku mengerti bahwa aku hidup haru bersosialisasi. Dan aku sudah semakin dewasa. Pada tingakatan ketika aku harus bisa rendah diri. Tidak ada yang aku tinggikan. Karena ada yang lebih baik dariku. Waktu segera saja mempersiapkan dirinya. Mengemaskan barang-barangnya, lalu pergi tanpa pamit. Ada yang berbeda saat ini, aku dekat dengan saudara-saudaraku yang lain. Aku ingin banyak tahu tentang saudaraku yang lainnya. Ilmu terus disumbangkan tanpa lelah oleh pecinta ilmu untuk para kader ilmuan untuk hidup kami. Lalu, aku tiba-tiba saja dekat dengan tiga saudarku yang lain. Mereka baik, penuh dengan keceriaan ketika bersama mereka. Aku mulai jenuh pada kegaringan yang ada. Mengapa ada hal yang ganjil ketika aku tidak bersama mereka semua? pertalian individu tidak ada, aku rasa. Tidak seperti keceriaan dan kebersamaan yang kami tunjukkan. Aku bingung. Aku menelusuri tabiat mereka. Dan ternyata, mereka mengasingkan aku pada hal-hal tertentu. Oh.. tidak,,,rasa inilah yang sangat tidak enak dalam dadaku. Biarkan, kataku. Aku tahu mereka kini. Terus waktu berlarian kencang tanpa tahu ada yang tertinggal. Sampai ketika aku mulai gerah pada tabiat mereka. Tentu aku mengambil sikap yang wajar untukku. Mereka bingung, ketika aku memuntahkan separuh yang tidak enak kurasakan pada seorang diantara mereka. Hmmmm, sama saja mereka tak pernah mau menerima kekuranganku. Saatnyalah aku mengambil keputusan yang membuat mereka semakin bingung. Silent, inilah kata yang patut terucap dari sikapku. Tiba-tiba pikiran tentang mereka ikut campur saja pada aktifitas ku mengais ilmu. Tidak, aku tidak boleh mencabangi pikiranku ini. Aku harus fokus. Tapi sedikit sulit, namun aku masih bisa fokus. Dan hari yang merobek hatiku bahkan pikiranku, tiba.

***

Tidak tau diri. Ya aku dapat katakan hal ini pada seorang saudaraku pada sikapnya yang sangat berlebihan. Dan tak kusangka kata-katanya ada yang melebihi koridor silaturahmi. Mungkin ini yang dapat aku katakan darinya. Aku tidak akan bisa mencari saudaraku yang lain untuk aku jadikan kawan. Dia ternyata tidak ikhlas pada silaturahmi yang ada selama ini. Aku tahu, serela-relanya seorang saudara kepada saudara yang lainnya, tidak akan mengatakan hal bahwa adanya keterpaksaan dan ketidakikhlasan. Tidak,,,kembali menghantui pikiranku. Aku harus tetap fokus pada cahaya ilmu yang masuk pada hati, jiwa, dan pikiranku. Begitulah, ada yang merobek fokusku lagi. Saudara seatap kecilku di persinggahan sementara kami, berbuat tak wajar hingga mempermalukanku di depan darahku. Aku cukup terkejut ketika pertama kali aku melihat tingkah lucunya. Hah?! mungkin ini kata yang patut di ungkapkan saat itu. Darah-darahku pun merasa canggung untuk membiarkannya menjamah istanaku. Sikapnya sungguh tak lazim. Tapi, aku senang dan dapat menukikan senyuman ketika saudaraku itu mampu merasakan dirinya benar-benar merasa. Aku cukup senang. Diantara kedua kisah aneh yang melenyapkan sadarku sesaat lalu, membuatku trauma menapakan diriku pada saudaraku yang lain untuk menjadikan mereka lebih dari "kawan", karena inilah jawabannya. Aku sungguh benar-benar tahu akan tabiat mereka sebenarnya. Dan terus belajar dari pengalaman. Tentunya pribadiku tak sempurna Rasulullah SAW. Manusia mulia bagi umat manusia. Aku akui inilah aku, aku bersalah pada mereka, namun ya semuanya mendapat pelajaran masing-masing. Dan kini...semuanya yang berhubungan denganku adalah sama, rata, dan tak akan aku sematkan sosok istimewa melebihi "kawan",karena semuanya adalah kawan. Tidak perlu aku gelar karpet kegelisahan serta kegalauan yang aku rasakan karena keduanya. Aku hanya cukup ikhlas, yakin, dan tetap optimis untuk menjadi lebih baik. Hanya rasa syukur yang dapat aku terbangkan diatas perjuanganku ini. Karena niatku berada, berpijak diatas tanah perjuangan ini hanyalah mencari rido Allah SWT untuk mengais ilmu sebanyak-banyaknya. Agenda sebuah acara. Ya, aku bertanggung jawab terlibat didalamnya. Sungguh, hal itu bersamaan ketika aku harus mengahadapi evaluasi triwulan setelah melewati setengah semester. Dalam payung perkuliahan. Waw..., inilah sebuah resiko yang patut diterima oleh seorang yang profesional. Acara Alhamdulillah berjalan lancar. Hatiku masih gundah, bila evaluasi itu tidak diikutsertakan untuk aku dan saudaraku yang lainnya. Tapi, syukurlah pecinta ilmu pada salah satu subyek mengijinkan kami evaluasi. Kami mengikutinya dengan khidmat dan konsentrasi. Membayar semua pengorbanan. Manusia dapat berencana dan menanam asa. Namun Allah-lah yang hanya dapat menentukan semuanya. Hasil evaluasiku berada pada tingkat rendah. Hah?!,,,,inilah sebuah resiko. Tak akan pernah aku menylahkan acara itu. Karena aku tahu itulah sebuah perjuangan. Aku bersyukur bahwa inilah kekuranganku. Walaupun evaluasi berjalan tiba-tiba. Tapi aku tahu, bila aku dapat membagi waktu dan mempersiapkannya lebih baik, tingkat menengah bahkan atas akan aku jamah. Itulah sebuah kenyataan. Aku harus tetap menjaga rasa keyakinan ini untuk terus melangkah dalam payung rido Allah dan orangtua ketika sedang mengais ilmu yang bermanfaat. Waktu kembali melewatiku cepat. Tig abulan telah meniti kepulangannya. Aku berada pada waktu yang menentukan. Tiga bulan lagi akan ada evaluasi terbesar. Dimana semua hasil perjuangan selama tingkat ketiga ini akan ditentukan disana. Hasil ketika mendengar, menyimak, dan melaksanakan yang diamanatkan untukku. Sampailah aku di pijakan persinggahanku yang lain. Tempat darah-darahku membanting tulang dan memeras keringat mereka untuk keberhasilan dan kelayakan hidupku dan darahku yang lainnya. Aku terperanga melihat keganjilan yang sedang dirasakan malaikatku. Malaikat yang sudah membesarkan aku hingga aku dapat merasakan hidup yang sesungguhnya. Ialah ibu, ada yang merusak pikiranku. Ketidakwajaran aku terima dan aku dengarkan. Aku cukup dapat mengeluarkan bening mataku. Ketika aku kembalikan lagi pikiranku pada bulan-bulan sebelumnya. Ya Allah...inilah ujian-Mu. Hanya dapat bersabar,ikhtiar, dan menaruh tulus dalam dada menghadapinya. Dan itu semua membuat kepalaku pusing setiap waktu. Hingga sedikit tidak fokus pada ilmu-ilmu yang sepatutnya aku dapatkan dengan mudah. Pikiran yang sudah leleh oleh waktu ketika hal-hal yang membuatku gelisah. Aku belum bisa membawa diri pada konsentrasi yang seimbang. Tingkatan ketiga ini penuh dengan hikmah yang terlahir dari rasa-rasa yang terkejut melihatnya.

***

Evaluasi yang benar-benar menentukan hasil perjuanganku selama tingkatan ketiga ini. Ya, tiba-tiba saja ketika detik yang membawa menit yang membawa jam yang membawa hari yang membawa minggu yang membawa bulan menggambarkan betapa aku harus mempersiapkannya lebih fokus dan konsentrasi, tapi tidak membuatku gerah atau gelisah besar. Aku hanya berpikir takut tapi aku tidak begitu hati-hati. Sehingga ketika satu pekan aku lewati. Aku menyimpan asa pada evaluasi itu bahwa tingkatan ini harus benar-benar bisa maksimal. Dan saat tibanya melihat keseluruhan batang-batang perjuanagnku yang aku tanam di tingkatan ketiga ini, cukup memuaskan, walau sangat jauh dari asa. Namun aku mencoba mengikat tulus, yakin, sabar, dan optimis dalam juwa pikiran dan hatiku. Ya, itulah yang harus aku lakukan. Karena hidup penuh perjuangan. "Nak, dalam perjuangan akan ada perjuangan lagi", demikian malaikatku bernama "ibu" menitipkan pesan yang masih aku ingat. Aku percaya Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya itu. Dan pasti akan ada hikmah dan sesuatu yang harus aku rubah untuk menjadi lebih baik. Dengan rasa yakin pada Allah, yakin pada diriku, tetap semangat, ikhlas, dan optimis menjalani hidup kedepan. Kesemuanya. Perencanaan yang positif sudah aku lukiskan di benakku untuk tingakatan selanjutnya yang menantiku. Penuh perjuangan disana. Aku harus benar-benar mengantongi yakin, semangat, ikhlas, dan optimis dalam langkahku mengais ilmu dalam payung rido Allah dan orangtua. Agar kesia-siaan, penyesalan, dan kerugian tidak aku dapatkan di masa yang akan datang. Ampuni hamba ya Allah...atas ketidaksyukuranku pada nikmat-Mu selama ini.,amin....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar