Pada tatapan merah pria berkulit hitam memanah menuju bangunan sederhana. Berponadasikan kulit bambu, pendosa-pendosa telah siap dengan pelurunya.Hari masih senja,namun kerumunan manusia putih yang hendak ibadah sudah bertebaran, keluar sosok wanita berambut hitam terurai, lurus dengan mata lentik dari daun pintu warung itu. berhelai benang merah menutupi ramping tubuhnya.hanya pancaran lentera kuning menghiasi warung itu. warung yang tak pantas disebut warung. pria sedang menari-nari dalam dunianya segera melangkah pada tapak berayun, dan mendekati wanita sudut warung. Tapi satu pejalan putih menghalangi panah yang hampir menusuk sang wanita. Pejalan putih segera menghampiri tepat di depan sang pria,"mang adul?,ini mang adul kan?"kata pun termuntahkan.
"pulang mang,ini saodah. bi jamilah sekarat,bukan lagi waktunya berdrama di depanku"
pria itu masih menari-nari di tempat. cairan haram telah menyatu di tubuhnya, sehingga ia menari dalam lantunan musik syeitan.
"mang adul harus pulang,mang adul harus pulang"katanya setelah memegang tangan layu yang pernah menamparnya.
"mang adul mau kemana?bukan itu tempat pembaringan mang nanti",saodah menengok ke arah wanita yang melebarkan senyum dengan gigi berselaput sinar itu. kembali ia menerima diam dari pembisu itu.
karena tak tahan lagi, saodah menarik lengan keriput itu dan melangkah seribu memikul kemaluan yang didapatnya selama perjalanan. puluhan pasang mata mendarat di dirinya.
sampailah pada rumah panggung berhias putih lentera.
"Assalamualaikum, neng,neng...ini saodah sama mang adul"
pintu terbuka,tatapan tajam seorang gadis kecil menguraikan air hangat."bapak?"ia tak ingin menjatuhkan tubuhnya pada pelukan sang pria yang sedang menari-nari diatas panggung syeitan itu.
"kenapa bapak baru pulang?bapak mabuk lagi?pak, ibu sekarat pak"
setlah mendengar kata putri mungilnya,akhirnya sambil menari ia menjuruskan makian pada darahnya sendiri
"diam kau anak lembu,biarkan saja ibumu mati, aku tak peduli",
eneng segera menuju pembaringan ibunya, ia menepis segala makian yang jatuh menimpa hatinya setiap hari itu.
"tapi,mang, istrimu akan mati kau harus ada di sisinya sebelum....",kata saodah menambahkan bumbu penyegar. Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah teriakan membelah mgrib itu, keluar dari mulut mungil eneng.
"ibu............."
Saodah segera meninggalkan pria kotor itu dan memasuki ruang yang penuh duka menerawang.
"Innalillahiwainnailaihirajiun..",saodah menghampiri eneng dan jongkok sejajar dengan eneng. maka di rangkulnya gadis cilik yang tak berdosa itu. Air mata pun telah tumpah lima menit yang lalu.