Assalamualaikum Selamat datang di {blocerlukman.blogspot.com },tempat kamu tahu mengenai cerpen lukman. Tidak hanya itu, kamu pun dapat memberikan komen yang membangun untuk karya ku.Semoga bermanfaat dan mendapatkan ridho Allah SWT amin... Wassalamualaikum
Minggu, 09 Januari 2011
-tulisan tanpa alasan-
Malam ini tidak memelukku secara rapih. Ia terus menghembuskan angin pucat yang tak berarah. Dari sebuah tulisan ia menertawaiku dalam-dalam, seakan menunjukan bahwa siapa dia dan inilah dia. Tapaknya pun sudah dia daratkan di pelabuhannya, sungguh senang bukan? kini aku bercacau di atas mesin ketik. menuangkan semuanya. Tidak terasa sunyi mulai membengkak, memar ditampar sembilu berkarat. Jari-jariku sedang asyik bermain dengan huruf-hurufnya, lalu mataku tiba-tiba bicara, "kau salah, untuk apa kau berbuat seperti ini? sedangkan dia yang telah kau acuhkan kini bahagia bersama senyum meyeringainya?", "persetan kau mata, kau tak tau dalam hatinya yang rapat itu...". Di tengah-tengah cacau, ada pikiran sedang menjajakan jajanannya, yaitu masa lalu yang dicampur bumbu kepahitan namun nikmat untuk yang sedang bersenang dengan kata-kata tanpa alasan. Ia menawarkanku yang sedang terpaku, "kau mau?", aku diam dan mengangkat senyum sisnisku padanya, "Ish,,,binatang jalang...untuk apa kau kesini?", " aku..? hmmmm menghancurkanmu melalui bumbu-bumbu ini...", "pergi kau !!", ia telah berlalu bersama jejaknya yang terhapus. Suara durjana yang terikat oleh kakinya yang rapuh berdawai,"hai para pesakit...,kau telah salah, salah, salah, hahhhhha, ", aku terus berusaha mematung, namun ia mulai mendekat, dan suaranya semakin memekakan telinga,"hai....pesakit yang disana, sedang apa kau? menaburkan benih sia? ehhhhe....",akhirnya aku mulai menjulurkan lidah, "hai durjana hati, sudahlah !!! pergi dan urus saja pemakamanmu yang telah mati itu jangan kau pedulikanku...", setelah banyak juluran lidah kuhantam kemukanya, ia mulai berlalu,,,,lalu, sunyi segera hidup dan bermain riang di luar sana, aku masih disini dengan tulisanku. Lalu, mengapa tiba-tiba gerakku diam? jemariku membatu? apa yang terjadi? ternyata aku sedang dalam gulungan perih yang membutakan penglihatanku. Terlihat dari kejauhan namun terasa olehku kedekatannya, mata? ha?pikiran?ha?durjana hati?ha? , mereka tertawa terbahak-bahak melihat aku yang terperosok dalam liang penuh bangkai sesal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar