Minggu, 09 Januari 2011

-kisahku enam bulan kedua (bagi yang baca note senbelumnya Insya Allah nyambung)-

Assalamualaikum, apa kabar siang bertemu senja...., kini aku telah sampai dr pintu gerbang. Dan meninggalkan sepucuk kenangan yang habis ditelan waktu. Dalam perjalananku enam bulan itu, aku merasakan segalanya. Aku memperoleh kebaikan dr perjuangan yang sempat ikut tertelan waktu bila aku tak dapat memanfaatkannya. Duduk mendirikan pikiran ditengah konsentrasi penuh. Ya, itulah setiap hari kulakukan dihadapan seorang pecinta ilmu. Ia memberikan emas-emas lalu di opernya kepada otakku. Hingga sedikit demi sedikit aku mulai dewasa. Tidak seperti kala ku memijakan kaki diatas tanah gersang dua belas bulan lau. Ya tak terasa, telah setahun aku disini. Aku mulai tahu siapa aku? darimana aku? dan kapan aku akan kembali. Aku mulai merasakan beratnya menjadi seorang penuntut ilmu. Namun, dibbalik itu. ada secerca sinar terang menemaniku untuk terus melaju menghadapi badai ujian yang penuh tantangan. Esok aku akan pindah dari tempat awalku mencicipi kota ini. Bangunannya mengingatkanku akan perjuangan darahku mengantarkanku hingga tempat itu. Semua penuh kenangan disana. Aku pun harus menuangkan air sejuk pada kawanku untuk saling mengikatkan tali kebersamaan kami untuk segera menemui tempat baru kami. Ya, tak jauh dari sini. Sekarang tatapanku tiba-tiba terhenyak. Aku pulang senja itu, termenung melihat perubahan yang tak lazim. Kawanku telah rela memberikan lelahnya untuk tempat baru kami. Semua telah rapi. Tak hanya itu aku banyak berpikir hingga malam menjamu. Aku lupa akan sesuatu. Rindu yang masih disana. Memeras urat kepalaku hingga gambar darah-darahku mendorong air hangat keluar dari telaga mata. Aku harus mulai terbiasa dengan apa yang ada dihadapanku. Harus. Sempat ku mengeluh pada syukur yang tak kunjung memberikan nikmat padaku. Aku masih termenung saat-saat rindu itu. Dan tiga bulan telah merangkak. Tak terasa. Wajahku semakin terlihat dewasa. Bulu halus mulai tumbuh di bawah hidungku. Ya Allah...aku pun telah sembilan belas tahun. Tak terasa. Kata itu lagi yang mampir di benakku. Aku harus mulai gundah dengan masa dihadapanku. Aku akan menginjak satu tingkat. Dan merasakan indahnya perjuangan disana. Dengan peluh yang memeras serta lelah yang bersandar di sendi tulang. Aku semakin dewasa. Apalagi melihat wajah-wajah baru mulai lahir dari perjuangan mereka. Kesibukan mereka benar-benar memperlihatkan kembali saat itu betapa sulit dan besar perjuangan darahku menitipkanku disini. Aku tersenyum. Namun, air hangat kembali mengalir dengan syukur yang membelendung di diriku. Ya, aku ini adalah aku yang pada saat ini hidup. Hari ini.Dan menatap terus kedepan tanpa, mempedulikan siapa, apa, dan bagaimana ujian menghantamku. Dia yang penuh Maha masih mengiringiku,  juga lantunan do'a bercampur asa dari darahku. Hampir tiga puluh hari kami merebahkan badan, pikiran, hati di tempat asalku. Setelah mengurus sesuatu yang lebih dari penting, aku kembali menatap tempat gersang penuh perjuangan ini. Bulan suci, serta hari fitri terasa memompa inginku untuk terus menjadi lebih baik. Harus. Dan menjadi insan yang mengeri tentang kehidupan. Kehidupan yang fana terganti yang kekal. Nantikan kisahku selanjutnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar