Assalamualaikum Selamat datang di {blocerlukman.blogspot.com },tempat kamu tahu mengenai cerpen lukman. Tidak hanya itu, kamu pun dapat memberikan komen yang membangun untuk karya ku.Semoga bermanfaat dan mendapatkan ridho Allah SWT amin... Wassalamualaikum
Minggu, 09 Januari 2011
-duniaku sedang menangis-
Petapakanku menginjak tanah dosa. Aku sedang menampar pikiranku. Ia nakal, selalu saja membuat urat nadi berantakan. Malam ini dunia di bawah sana sedang apa ya? aku penasaran. Aku pun mulai melakukan perjalanan jauh menuju selaksa yang sedang kusut. Perlengkapanku telah lengkap. wajah orang-orang di dekatku telah ku kantongi. Ingatan juga telah aku masukan rapat-rapat di gendonganku. Apa yang kurang ya? ohy senja disana belum ku lipat. Sebentar aku melangkah, ia tersenyum padaku. Aku agak malu mengajaknya. Tapi, harus aku lakukan. Nah..kini semuanya telah siap. Kendaraanku telah aku hidupkan menuju kesana. Mataku telah mengendarainya dengan cepat. Tanpa mengundang kesadarannku, aku hampir sampai. Negeri disana, masih membuatku penasaran. Ketika setengah perjalananku menginjak sepertiga malam, aku terperangkap pada jeratan yang menutupi pandanganku. Aku kesulitan, yang aku lihat dan rasakan hanya rintihan tangisan yang ada. Ya Allah....aku ternyata telah sampai, kataku setelah membelalakan mata dengan tajam. Aku melihat mereka sedang menangis. Air matanya memenuhi sekitarnya. Mereka juga berteriak kencang yang memekakkan telinga. Mereka meminta dengan paksa wajah-wajah orang yang ku kantongi. Aku khawatir, mereka mau mengacak-acaknya. Apa mungkin memang itu yang mereka harapkan. Aku melihat wajah-wajah itu disobek lalu digigit dengan rintihan tangisan yang semakin keras. Saat pandanganku sedang meruncing kesana, tiba-tiba ada hentakan keras dari belakangku. Mereka mengambil ingatan ku, lalu aku melihat didepan mataku, mereka seenaknnya memakan ingatanku hingga habis tak berbekas. Aku mulai ketakutan. Aku segera berlari, sejauh mungkin. Memikirkan perjalananku yang mungkin kurang sesuatu. Aku semakin ketakutan, mereka bergerombolan mengejarku, kaki mereka tak terlihat, namun begitu cepat. Aku benar-benar semakin memacu kakiku. Tapi, nafasku telah menghentikan pelarianku perlahan. Kakiku mulai mundur dengan wajah yang terlupakan oleh senja yang kulipat. Semakin aku mundur dan menjauh, semakin mendekatlah mereka. Tiba-tiba, aku terjatuh sangat dalam. Semakin dalam hingga tatapanku kosong dan tak terlihat. Jantungku terasa tertinggal diatas sana. Aku masuk dan jatuh semakin dalam, lalu ada suara yang keras memecahkan gendang telingaku, namun aku sempat mendengar kata-kata yang dilontarkannya. Mereka yang mengejarku berkata, "akulah duniamu yang menangis, yaitu kalbu yang kau acuhkan selama ini", aku langsung tejaga oleh kata-kata di sisi kananku, ia berkata,"kau lupa membawa do'a dalam perjalananmu, bukankah itu satu harapan yang kau harus simpan diatas kepalamu?"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar