Asaku berlompat-lompatan ketika berkumandang kabar dari sana. Aku kini akan menjadi mereka yang sibuk membaca, mengkritisi hal yang tabu, bahkan pertalian yang akan erat setelah semuanya berkumpul. Dan dihadapanku, enam bulan yang lalu sebuah penentu hidup. Dimana aku akan berjuang dan jauh dari keramaian di rumah. Riang ku dengar suara hati ini disaat benar-benar terlihat dua pasang mata di hadapanku memecahkan air hangat dan tumpah mengenai tanganku. Ku pun tak terelakkan, haru itu masih terngiang dalam ingatan ku. Berangkat menuju daerah yang gersang garang dipenuhi roda-roda berjalan serta debu yang menempel di setiap manusia yang berada disana.
Baling-baling pikiran memutar kencang ketika aku harus salam terakhir untuk sementara pada darahku. Aku sedih, hingga air hangat kembali terurai, terisak-isak mengiringi perjalananku dengan ibunda. Sampailah aku disana, kawanku telah menunggu. Ini rumah semntara ku disini. Kami akan membuat suka duka berbaris di kisah kami. Hanya keridhoan-Nya serta ikhlas ku untuk melangkah lebih maju. Petang itu begitu mendera. Teduh ku lengkap bergandengan dengan diam ketika ibunda pergi meninggalkanku menuju Jakarta. Kami telah sendiri dan mandiri. Perkumpulan telah dimulai, aku dan kawan serumahku sibuk memburu kelengkapan peradaptasian kami di tempat baru setelah meninggalkan masa hura-hura dan masih canda-canda. Seminggu kami merasakannya. Semangat mulai terbakar. Telah ku ukir di benak ini suatu rencana. Ku miliki banyak perkumpulan setelah satu demi satu penyaringan potensi dimulai. Dan saatnya ku buka lembaran baru terukir di kertas hidupku. Aku telah sah menjadi warga tempat ini. Ku tekuni dengan buku dalam genggaman ku. Ku muntahkan segala yang kupikir di setiap periode. Disitu pun aku merasa inilah yang disebut pendewasaan. Aku senang dengan apa yang ku ukir itu sedikit demi sedikit tergambar. Orang yang memberi ilmu itu beragam. Karakter mereka memahami ku untuk terus membenah diri. Terus ku lewati rintangan di hampir enam bulan ini. Ku rasa ku telah memiliki tali cinta pada kawan-kawan di sebuah ruang. Tawa, canda, selingan celetuk melengkapi hiruk pikuk kehidupan kami di rumah baru dan sebuah tempat ilmu. Lalu, pengujian dimulai, setelah melewati tes untuk mengetahui apa aku. Maka, baru-baru ini aku pun telah melewati sepekan penentuan untuk enam bulan berikutnya. Dan sekarang aku mendapatkan buah yang baru matang untuk lebih matang. Buah itu kembali merasuki ku untuk membenah diri. Jadi inilah hasil enam bulan itu. Ku pun berusaha tunduk dalam syukur pada-Nya. Dengan asa melayang disana dan terus kan keu pertahankan buah manisnya dan ku tingkatkan buah busuknya agar tambah manis dirasa. Nantikan kisahku enam bulan berikutnya, caw
Tidak ada komentar:
Posting Komentar