dipenuhi kerikil cokelat
menghalangi pekat di pelupuk mata
aku yang bertanya-tanya
pada tanda tanya yang masih menari
bersama rasa yang abadi di benakku
aku yang diam dengan mata kosong
memperhatikan titik dihadapanku
ia tak memberikan warna atau gambar
aku yang mematung
di tiang ku yang hampir rapuh
dan lemah
aku yang bersandar
pada dinding-Mu yang bertabur rahmat dan nikmat
juga anugerah yang masih kurasakan
aku yang berdiri
pada tapak yang tak berpijak
menyeru masa terus mendorongku
aku yang menatap
rasa yang hampir punah
ditelan prasangka
aku yang dihadapan aku
aku yang menatap aku
aku yang menertawakan aku
aku yang menjatuhkan aku
aku yang melindungi rasa itu
aku yang terluka karena rasa itu
aku yang mengangkat tangan pada-Nya
aku yang memohon satu
aku yang berjalan
dalam lingkaran teka-teki
menjinjing satu asa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar