Minggu, 09 Januari 2011

-tarian hati-

Jangan katakan tentang putih-putih yang melekat pada tumpukan hati didalam bejana, Ia telah dirajam oleh masa lalu dan kini telah mendapatkan pelabuhan terakhirnya. Lentera sedang menari dalam lantunan angin asing. Ia mencoba mengajarkan pikiranku untuk menari. Maka di ajarkanlah pikiranku tentang sebuah tarian yaitu tarian hati. "hati selalu naik turun, dan mencoba naik setinggi-tingginya, namun ketika ia sudah jatuh, sakitnya sangat miris, hingga merobek kulit tipismu bahkan mengalahkan sendi2 yang telah lemah dan begitu mudah di penggal, jadi angin yang sedang sangat ribut tak bisa membiarkannya diam, dan terus mencoba merobek-robek hingga dagingmu. Sebaliiknya, jika hati sedang turun serendah-rendahnya, ia pun bahkan begitu mudah menjadi umpan untuk mengailkannya pada iblis, sebelum aku mengajarkannya padamu tentang tariannya, aku akan bercerita tentang si hina. Hina seorang makhluk berbadan hati dan bermuka perih. Pekerjaannya hanya menerima cercaan dari yang lebih hina. Lalu suatu ketika ia berjalan menuju kerumunan orang, lalu ia bertanya pada salah seorang diantara mereka, "ada apa kau berkumpul seperti ini?disini?","kami sedang menanti kematian kami, untuk dijadikan olok-olok alam. Lalu mengapa kau tidak bergabung dengan ku dan yang lainnya?",Hina menjawab,"aku? aku sudah lebih buruk dari kalian, bukan? jadi tidak pantas aku ada disini","apa?!tidak pantas? kau tidak tahu yang sedang kau bawa di badanmu itu?hahhhha, hina..hina.., kau belum lebih nista bila kau tidakmerasakan apa yang aku rasakan, sekarang kau ikut aku. Akan aku bawa kau kesana", ia menunjuk kearah wajah-wajah yang lebih hina dari hina, namun tidak seperti biasanya, mereka membawa masa lalu , yang lalu, sangat lalu, bahkan sebelum ia ada. menampar hina menusuk badannya dengan sangat keras llau dilemparkan ke alam yang siap- mengolok-olok hina. Setelah mereka melakukan itu, mereka benar-benar menikmati mulut yang sedang menganga lebar tentang tawa yang terbahak-bahak. Hina mati, lebih dulu darimereka. Nah, itulah cerita tentang seorang Hina. Baiklah aku pergi dulu","tapi, kau belum mengajarkanku tarian, tarian hati?",lentera menjawab"apa yang telah kau lakukan dua jam lalu, adalah tarian hati yang telah membunuh hina dengan hatinya yang menumpuk bersama goresan putih-putih itu. Kaulah mereka itu,kau yang merajam hati di tumpukan bejana yang disebut Hina, alam. Kau pelakunya kau.....kau.........hahhahha"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar